Europe,  Food,  Review,  World

Mencicipi Kuliner Suriname di Amsterdam

Pernah dengar tentang negara bernama Suriname? Saya tidak ingat persis kapan pertama kali mendengarnya. Mungkin saat SMP atau malah SD. Yang jelas saat sekolah dulu, pelajaran geografi dan sejarah adalah favorit saya. Saya paling semangat kalau disuruh menghafal nama negara dan ibukotanya, salah satunya tentunya “ibukota Suriname ….. Paramaribo”.

Suriname yang secara geografis terletak di Amerika Selatan ini ternyata memiliki ikatan sejarah dengan Indonesia lho, terutama masyarakat Jawa. Saat ini Suriname memiliki komunitas masyarakat Jawa terbesar di luar Indonesia, disusul oleh Kaledonia Baru.

Suriname dan Indonesia sama- sama pernah menjadi koloni Belanda. Sekitar tahun 1800an banyak orang Jawa yang didatangkan untuk bekerja di area perkebunan dan pertanian di Suriname. Sejak saat itu, suku Jawa menjadi salah satu kelompok masyarakat yang jumlahnya cukup signifikan di Suriname.

Saat ini ada banyak sekali orang Suriname yang tinggal dan menetap di Belanda. Makanya, tidak heran kedai makanan Suriname mudah dijumpai di seantero Belanda, terutama di kota- kota besar.

Jadi, kalau sedang jalan- jalan di Belanda dan kangen masakan Jawa, boleh juga lho mampir ke warung Suriname.

Karakter Masakan Suriname

September 2016, hari pertama orientasi kampus di Wageningen saya bertemu dengan seorang mahasiswi dari Suriname, Diana namanya. Pertama kali melihatnya, saya pikir dia orang Indonesia. Wajah dan perawakannya yang mungil khas Asia sekali.

Satu malam kami mengadakan potluck dinner. Diana memasak ayam dengan bumbu-bumbu yang mirip sekali dengan masakan Jawa. Dia memakai kecap manis dan laos. Dua bahan yang sangat Indonesia sekali.

Menurut The Spruce Eats, khasanah kuliner Suriname cukup unik jika dibandingkan dengan negara – negara tetangganya. Hal ini dikarenakan banyaknya pengaruh yang dibawa para imigran saat zaman kolonisasi Belanda.

Di masa lampau, para pekerja migran banyak didatangkan dari Indonesia (khususnya Jawa), China, India, dan Afrika. Para pendatang ini tetap membuat masakan dari daerah asalnya dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di Suriname.

Bagi para pendatang Jawa, memasak makanan Jawa di Suriname tidaklah begitu sulit. Kemiripan iklim membuat bahan-bahan masakan Jawa mudah ditanam dan dibudidayakan di benua baru ini. Misalnya nasi, singkong, ubi, berbagai empon-empon, dll.

Warung Makan Suriname di Belanda

Menurut pengamatan sekilas saya, sepertinya kebanyakan warung Suriname di Belanda bercitarasa Jawa dan India, atau perpaduan keduanya.

Salah satunya sebuah kedai kecil bernama Warung Spang Makandra. Saat masuk ke dalam, saya disapa salah satu pegawainya (atau pemiliknya mungkin), seorang lelaki paruh baya.

Warung Spang Makandra

Setelah bertegur sapa dalam Bahasa Inggris, dia menebak kalau saya orang Indonesia. Seketika percakapan langsung beralih ke Bahasa Jawa, tepatnya Bahasa Jawa Ngoko. Dia tidak bisa Bahasa Indonesia. Masuk akal, karena saat nenek moyangnya bermigrasi tentunya Bahasa Indonesia belum muncul.

Sebagai informasi, Bahasa Jawa memiliki beberapa tingkatan dari yang paling halus (kromo inggil) sampai yang kasar (ngoko). Jika kita baru berkenalan dengan seseorang, lazimnya Bahasa Jawa halus yang dipakai. Saat itu saya agak sungkan karena rasanya di kuping saya ini, kok saya terdengar kurang sopan. Tapi saya ikuti saja.

Saya bertanya dalam hati, kenapa Bapak tadi memakai Bahasa Jawa ngoko – bukan halus. Saya pikir, mungkin karena leluhurnya merupakan kelas pekerja atau petani yang lebih terbiasa menggunakan bahasa Jawa kasar dalam komunikasi sehari – hari. Ini hanya analisis sederhana saya ya.

Nah, melihat menu makanan Spang Makandra, nama-namanya cukup familiar. Tak heran karena warung ini memang menyajikan masakan Jawa Suriname.

Beberapa persis seperti nama masakan Jawa di Indonesia, seperti, gado-gado, gudangan, lumpia, nasi, dawet, emping. Beberapa ejaannya agak mirip, tapi masih bisa ditebak, misalnya saoto, pitjel.

Selain masakan Jawa-Suriname, menu lainnya kental oleh pengaruh masakan India, seperti roti dan kari. Ini juga tidak mengherankan karena komunitas imigran dari India juga jumlahnya cukup banyak di sana.

Saya pun segera memesan beberapa menu, yaitu saoto, bakabana, dan dawet. Porsinya kecil sehingga harganya pun lebih terjangkau.

Sotonya disajikan dalam mangkok kecil, seperti mangkok soto Kudus. Isiannya terdiri dari tauge, ayam, dan taburan bawang goreng. Kuahnya yang bening dan segar mirip dengan soto dari daerah Jawa Tengah.

Untuk dawetnya ternyata hanya kuah santan, tanpa ‘dawet’. Benar sih sesuai dengan deskripsi di menu. Walaupun minus dawet, tapi enak kok, kebayang kan gimana sih rasanya perpaduan santan sm sirup cocopandan? Gurih, creamy, manis.

Nah, kalau di Indonesia, pisang goreng biasa dibuat dengan pisang kepok, bakabana dibuat dengan plantain – mungkin sejenis pisang tanduk atau pisang raja yang ukurannya besar sekali. Di Amerika Selatan, plantain merupakan salah satu jenis pisang yang sering dimasak.

Yang menarik, bakabana disajikan dengan sambal kacang. Sambal kacang atau pindasaus sendiri merupakan salah satu cocolan paling populer di Belanda lho.

Akhirnya tuntas juga rasa keinginan untuk mencicipi masakan Suriname. Saya memang sangat penasaran terutama karena adanya tautan sejarah Indonesia dan Suriname.

Bersantap di warung makan Suriname ini betul-betul seperti menerbangkan saya kembali ke rumah. Baik suasana dan makanannya sama-sama membuat hati saya nyaman.

Mungkin terdengar aneh, tapi saya merasa memiliki sedikit koneksi dengan Bapak pegawai Spang Makandra – mungkin sebagai sesama orang Jawa. Rasanya seperti bertemu keluarga yang jauuuuuuuuuuh sekali. Semoga lain kali bisa mampir lagi!

6 Comments

  • A Dreamer

    Hi mba Rosa senang baca tulisan mba yang makan-makan di warung Suriname, hehe. Ngomongin masyarakat Jawa Suriname aku pernah baca sedikit sejarahnya mba.

    Yah sayang banget ya aku nggak bisa bahasa jawa, jadi nggak bisa pak pegawai Spang Makandra😂😂, btw sotonya terlihat menggoda mbaa.

    Semoga one day bisa jalan-jalan ke Suriname dan berjumpa masyarakat Jawa Suriname.

    • Rosa Safitri

      Amiin.. di Belanda byk org Jawa- Suriname juga kok. Makanya gak bisa sembarangan ngomong bahasa Jawa di sana. Tau-tau ada yang nyaut lagi. hahaha. Tp msh ttp pengen juga sih ya traveling ke negaranya langsung.

    • Rosa Safitri

      Hi Mbak Nina, salam kenal 🙂
      Banyak banget mbak di Belanda, hihihi.. dulu kalo ke Den Haag, harus banget mampir. Tapi di kota lain, sampai ke kota2 kecilnya juga ada warung makan Indonesia.. perut aman lah klo traveling ke Belanda ya.. hehe

  • Justin Larisss

    Hai Rosa. Saya jujur baru tahu soal orang Jawa di Suriname ini ketika baca berita soal alm Didi Kempot manggung di sana. Terus suami saya bilang, “Aku tuh pengin banget ke Suriname, mau ngerasain ketemu orang Jawa sekampung di luar negeri,” hahaha. Soalnya dia kan orang Jogja asli, pasti seru kalau bisa jejawaan pas lagi keluar.

    Btw pisangnya pake sambal kacang ya ampuuun, saya pernah makan kayak gitu di Jogja, sama di mana ya, Surabaya apa ya lupa. Manis kah pisangnya? Terus di restoran itu, ada sajian minuman kayak wedang uwuh atau wedang jahe gitu gak? Atau es teh manis ada gak? Wkwk.

    • Rosa Safitri

      Hi Mb Justin, makasih sudah mampir 🙂
      Sama mbak, aku juga pengen ke Suriname. Di Belanda juga lumayan banyak kok mbak orang keturunan Jawa – Suriname. Kalo pas jalan2 ke Belanda, jangan lupa mampir ke rumah makan Suriname yaaa..
      Di Belanda saus kacang ini lumayan lumrah mbak. Kentang goreng juga dimakan sm sambel kacang hahaha. Wedang uwuh kyknya g ada, hahaha. Yg paling Jawa itu dawet sih, lainnya kyknya minuman biasa dan minuman Suriname.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *