Europe,  World

Apesnya Ditolak Masuk Makedonia

Juli – Agustus adalah saatnya summer break di Belanda. Juli 2017, saya dan dua teman kuliah di Wageningen, sebut saja Puspita dan Retno (nama sebenarnya) melancong ke beberapa kota di Italia, Prancis, dan Eropa Tengah & Timur, tepatnya ke Romania, Bulgaria, Makedonia, dan Kroasia.

Kenapa kami memilih destinasi tersebut? Ada banyak faktor. Pertama, kota- kota tersebut relatif lebih murah dibanding negara lainnya. Tiket murah juga melimpah, baik dari Ryan Air, EasyJet, Transavia, dll.

Alasan terpenting sekaligus terabsurd: karena Game of Thrones season 7 saat itu sedang tayang! Mwahaha. Pasti tahu dong, kota Dubrovnik di Kroasia merupakan lokasi syuting King’s Landing.

Sneak peak Dubrovnik

Saat itu pariwisata di Dubrovnik juga sedang melesat tajam, thanks to GoT. Sebagai die-hard fans GoT, saya dan Retno tidak mau melewatkan momen paling pas untuk menyambangi King’s Landing. Mumpung sedang di Eropa kan.

Rencananya, Dubrovnik akan menjadi tujuan terakhir dari perjalanan kami. Ternyata, menuju Dubrovnik tidak semudah itu Ferguso.

Deg-degan di perbatasan Bulgaria – Makedonia

Traveling memang kurang memorable kalau nggak ada kejadian- kejadian luar biasa, ya kan.

Singkat cerita, kami sudah merampungkan itinerary di Bulgaria. Dini hari kami sudah berada di atas mini van dari Sofia (ibu kota Bulgaria) menuju ke Skopje, ibu kota Makedonia. Rencananya, dari Skopje kami akan naik bus menuju ke Dubrovnik.

Sekitar jam 4 pagi, para penumpang dibangunkan untuk cek imigrasi di perbatasan Bulgaria dan Makedonia. Bulgaria merupakan bagian dari negara Uni Eropa dan area Schengen, sedangkan Makedonia tidak.

Saat itu kami masih santai- santai saja. Rasanya mata masih berat ketika kami harus angkat koper dari bagasi dan antri untuk cek imigrasi.

Suasana menjadi lebih intens ketika setiap penumpang harus membuka tas dan koper mereka. Seekor anjing mulai mengendus-endus tas kami. Mentang- mentang kami tinggal di Belanda, mungkin mereka curiga kami bawa ganja. Hahaha.

Salah Visa

Para penumpang lain kembali memasukkan barang bawaan mereka ke dalam bagasi. Sedangkan, kami bertiga dipanggil masuk ke dalam gedung.

Kami ditanyai banyak pertanyaan. Petugas membolak-balik paspor kami, melihat resident permit kami, sambil mengecek dokumen di komputernya.

Kami masih yakin kalau dengan resident permit Belanda, kami bisa mengunjungi Macedonia. Kami mencoba meyakinkan petugas imigrasi kalau kami seharusnya bisa masuk negara mereka.

Kami bertiga mulai khawatir. Petugas yang kurang bisa berbahasa Inggris ditambah palagi suasana kantor imigrasi negara pecahan Yugoslavia ini yang jadul, gelap, kuno, menyeramkan.

Setelah terlalu lama menunggu, akhirnya bus yang kami tumpangi berjalan meninggalkan kami.

Kami mulai pasrah. Akhirnya bapak petugas memberikan selembar kertas dalam aksara cyrillic yang hurufnya kotak-kotak itu. Surat penolakan masuk Makedonia! Hahaha.

Persyaratan Masuk Negara Makedonia

Btw, negara ini habis ganti nama dari Macedonia menjadi North Macedonia pada Februari 2019).

Ternyata travel blogger senior, mbak Febi Jalan2Liburan juga pernah mengalami hal yang sama di tahun 2014, bedanya mbak Febi nggak ditolak. Hahaha.

Info terbaru dari Travel Macedonia per 5 Agustus 2020, pemegang paspor Indonesia memerlukan visa untuk masuk ke Macedonia.

Tapi, kalau kamu punya visa Schengen tipe “C” atau short-stay visa, kamu bisa berkunjung selama 15 hari. Sedangkan, EU citizen dan pemegang resident permit EU juga tidak memerlukan visa.

Nah, saya agak lupa, alasan kenapa kami ditolak masuk Makedonia. Sepertinya, saat itu hanya yang memiliki permanent EU residence permit yang boleh masuk tanpa visa, sedangkan kami memiliki temporary residence permit yang berlaku selama 2 tahun.

Menurut petugas, sebagai orang Indonesia kami harus memiliki visa untuk bisa masuk Makedonia dan resident permit Belanda kami tidak menggugurkan kewajiban tersebut.

Akhirnya kami menyerah dan memutuskan kembali ke Sofia. Kalau ditanya gimana rasanya saat itu? Sebel, ngantuk, dingin, capek, kebelet pipis.

Awalnya kami kecewa dong, pupus sudah harapan menginjakkan kaki di kampung halaman Mother Teresa. Tapi, life must go on, ya kan.

Dubrovnik emang magical. Jemuran aja jadi photogenic kalau di Dubrovnik. haha.

Kami segera naik bus pertama yang datang menuju Sofia. Kami bertiga duduk di kursi di belakang. Setelah drama penolakan ini, kami mau tidur dulu sebelum atur strategi.

Sampai di Sofia, kami segera menuju bandara dan segera membeli tiket menuju Dubrovnik. Jangan ditanya harganya, mahal. Hahaha.

Summer break 2017 merupakan salah satu perjalanan yang paling seru. Liburan yang banyak dramanya, tapi travel buddies saya ini emang the best. Mau sedrama dan sengenes apapun, kami masih bisa tertawa – tawa, termasuk menertawakan insiden tertolak Makedonia ini. hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *