Shakespeare and Company Book Store, Paris
Europe,  World

Itinenary Jalan – Jalan di Paris yang Terinspirasi dari Film

Paris katanya tak seindah ekspektasi. Menurut data statistik kecil-kecilan dari lingkaran pertemanan saya, hampir 90% mengamini pernyataan tersebut. Katanya, Paris pesing. Banyak copet. Rasanya kemana- mana gak aman klo nggak ngekepin tas.

Libur paskah lalu saya dan mbak Diana melancong ke Paris. Paris kali ini yang pertama buat saya, a proper visit setelah insiden ketinggalan pesawat bulan Januari lalu. Karena kesibukan sebagai anak magang plus thesis, tak terlalu banyak waktu yang bisa saya luangkan untuk riset tentang Paris.

Tentunya ada beberapa hal yang ingin saya lihat di Paris, tapi saya nggak terlalu berambisi karena niatnya memang pengen jalan santai melepas stres. Kalau sempat alhamdulillah, kalaupun tidak ya no problem. Se-selow itu.

La Tour Eiffel alias Menara Eiffel

Sebagai first time visitor, saya mengandalkan kata kunci tersebut saat mencari referensi what to do in Paris. Hasilnya, tentu anjuran untuk mengunjungi landmarks kota berjuluk the city of light ini, termasuk tentunya Menara Eifel, Louvre Museum, Istana Versailles, dan Notre dame.

Namun, karena keseringan nonton film- film Hollywood, film Prancis, serta pemberitaan media tentang kota ini saya punya ekspektasi sendiri tentang Paris sesuai yang digambarkan dalam film tersebut.

Selain beberapa landmark Paris yang wajib dikunjungi, kami juga mendatangi beberapa tempat yang menjadi lokasi syuting beberapa film.

Simak yuk untuk tambah- tambah referensi kalau kamu liburan ke Paris!

Shakespeare and Company

Shakespeare and Company merupakan sebuah toko buku independen di pusat kota Paris, tepatnya di pinggir Sungai Seine dan di seberang katedral Notre Dame.

Toko ini menjadi lokasi syuting trilogi Before (Before sunrise- sunset-midnight) dan juga Julie & Julia.

Kalau kamu pernah nonton Before Sunset, ada salah satu scene dimana Jesse kembali ke Paris untuk mempromosikan buku barunya dengan acara book signing di toko buku Shakespeare and Company.

Faktanya, acara bedah buku beserta meet and greet bersama sang pengarang buku memang menjadi agenda rutin toko buku ini. Saat saya berada di sana, juga sedang ada acara bedah buku.

Shakespeare and Company Book Store, Paris
Shakespeare and Company Book Store, Paris

Shakespeare and Co tidak hanya sekedar toko buku, tapi juga menjadi salah satu tempat kunjungan wisata di kota Paris. Sehingga, jangan heran kalau antrian untuk masuk ke dalam toko ini lumayan panjang.

Di dalam toko pengunjung tidak boleh mengambil foto. Saya maklum dengan peraturan ini, disamping untuk kenyamanan pengunjung juga karena ukuran bangunan yang mini membuat hampir seluruh ruangan dan sudut-sudutnya dipenuhi oleh buku- buku.

Selain toko buku, Shakespeare and Company juga merambah bisnis kafe yang letaknya persis di samping toko buku. Kalau kamu penggemar canvas tote bag, jangan lupa beli tote bag nya.

Saya beli satu dan menjadi salah satu tas favorit saya yang selalu saya bawa kemana – mana. Selain kece, bahannya juga bagus. Plus, jadi bisa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai!

Shakespeare and Company

37 Rue de la Bûcherie, in the 5th arrondissement

Grande Mosquée de Paris

Sudah ketebak ya dari namanya. Yup, Grande mosquée de Paris adalah masjid raya nya kota Paris.

Saya tahu tentang mesjid besar Paris ini saat menonton Paris Je T’aime fragmen Quais de Seine. Yang tergambar di benak saya, facade bangunan yang digambarkan dalam film adalah pintu masuk masjid.

Eh, ternyata aslinya sebuah restoran. Kami pun harus mengitari kompleks masjid dan restoran ini untuk menemukan pintu masuk yang berada di sisi yang lainnya.

Grande Mosquee Paris, bagian depan restoran yang saya kira pintu masuk masjid
Grande Mosquee Paris, bagian depan restoran yang saya kira pintu masuk masjid
Bagian dalam Grande Mosquee de Paris
Bagian dalam Grande Mosquee de Paris

Selain sebagai tempat ibadah,  masjid ini juga merupakan atraksi wisata. Bagian dalamnya kental dengan arsitektur khas negeri Maghrebi atau Moorish, satu hal yang bisa dengan mudah saya kenali karena tahun lalu saya baru ke Maroko dan Andalusia yang gaya arsitektur mirip dengan yang ada di mesjid ini.

Oya, kalau kamu lapar dan mencari makanan halal, di sekitar masjid merupakan tempat yang tempat untuk mencari restoran halal.

Grande Mosquée de Paris

2 bis place du Puits-de-l’Ermite – 75005 Paris

Flamme de la Liberté (Flame of Liberty)

Flame of Liberty ini saya temukan secara tak sengaja saat berjalan dari Arc de Triomphe menuju Menara Eiffel. Sebuah tugu di atas terowongan di tempat Lady Diana mengalami kecelakaan maut yang merenggut nyawanya.

Kebetulan sebelum ke Paris, saya baru saja selesai menonton film dokumenter tentang Lady Diana; Diana in her own words (ada di Netflix) dan The Story of Diana. Jadi feelingnya dapet banget pas sampai di tugu ini.

I was happy to accidentally find this statue, but also sad at the same time. Saya pun teringat saat masih kelas empat SD (atau kelas lima ya?), saat itu tugas membuat kliping adalah hal yang jamak. Maka ketika Lady Diana meninggal dan pemberitaannya begitu dahsyat, guru kelas saya waktu itu langsung menitahkan kami untuk membuat kliping tentang sang putri.

Saya yang masih bocah ingusan saat itu nggak terlalu ngeh tentang siapa putri bule cantik ini? Yang saya tahu hanya, putri dari Inggris ini barusan meninggal, anaknya dua, beserta dengan baju dan gaunnya yang modis.

Namun, sesungguhnya tugu ini bukanlah didedikasikan untuk sang putri, melainkan sebagai replika api dari puncak patung Liberty untuk memperingati 100 tahun hubungan Amerika-Prancis di. Namun, para penggemar Lady Diana banyak datang ke tugu ini meninggalkan foto, bunga, dll karena kebetulan lokasinya berada di dekat tempat sang lady mengalami kecelakaan.

Flame of Liberty, unofficial remembrance for Lady Diana
Flame of Liberty, unofficial remembrance for Lady Dian

 Flame of Liberty

7 Place de l’Alma, 75008 Paris

Bonus: Belanja Skincare

Ini nggak terinspirasi film sih. Haha. Prancis memang gudangnya produk perawatan kulit kualitas wahid.

Produk skincare dan kosmetik juga banyak dijual di apotek (atau Pharmacie) dengan harga lebih murah daripada di Belanda atau di Indonesia, dan sering juga ada diskon.

Sebut saja merek- merek seperti Avene, Biotherm, Evian, La Roche Posay, Bioderma, Vichy, Caudalie, dll. Jadi, kalau kamu gemar mencoba- coba skincare, jangan lewatkan pharmacie terdekat ya, hehe.

 Jadi bagaimana kesan pertama tentang Paris?

Sejauh ini berdasar impresi selama tiga hari disana, saya suka kok sama Paris. Masih buanyak yang pengen saya lihat dari kota ini.

Sebagai bandingan, bagi saya mungkin Paris ini seperti Bali. Banyak yang bilang kalau Bali itu ya gitu- gitu aja, terlalu rame dan turistik. Tapi, herannya saya nggak pernah bosan kok kalau ke Bali. Selalu ada hal baru yang bisa dieksplor, terlalu banyak malah. Sama seperti Paris. Kali ini kemana, lain kali ke tempat lain. Jadi, Paris, sampai jumpa lagi ya 🙂

Sampai jumpa lagi, Paris!
Sampai jumpa lagi, Paris!

14 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *